No comments yet

Bernaung Dalam Majelis Syeikh Abubakar bin Salim

(Petikan ceramah Habib Umar bin Hafidz)

Dipetik dari Buku Penyeru Ajaran Suci Sang Nabi

Terbitan Pustaka Basma

Oleh : Al-Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladdawilah

 

Segala puji dan syukur hanya kita haturkan kepada Allah swt. Ketahuilah bahwa pada saat ini kita bersama-sama berkumpul dihadapan Allah swt. Kita menanti dan berdiri di pintunya Allah swt Yang Maha Pemurah dan Yang Maha Dermawan. Berkat dakwah Baginda Nabi Muhammad saw maka berdirilah ‘tiang-tiang’ kecintaan kita kepada Allah swt, kecintaan kita kepada Nabi-Nya, kecintaan kita kepada orang-orang yang shaleh, para auliya’ dan para shalihin serta kecintaan kita kepada segenap kaum mukminin.

Ketahuilah, bahwa segala macam kemuliaan, karunia dan anugerah yang diberikan oleh Allah swt kepada kita saat ini adalah pemberian yang diberikan Allah swt kepada kita secara cuma-cuma tanpa dipungut biaya sepeserpun.

Wahai orang-orang yang saat ini sedang mencari rahmat dan karunia Allah swt dalam majelis ini, ketahuilah bahwa semua yang kalian minta telah diberikan oleh Allah swt, maka dari itu perhatikanlah bahwa saat ini Allah swt sedang menatap dan memandangi kita sekalian.

Hanya Allah swt lah yang mengetahui semua rahasia yang ada di dalam benak dan sanubari kita, Allah swt mengetahui apa yang kita sembunyikan di dalam hati kita. Bagi Allah swt sama saja apa yang nampak, apa yang kita utarakan ataupun apa-apa yang kita sembunyikan, semuanya itu sama dimata Allah swt.

Apabila kalian mencari keridhaan dari Allah swt dan bersungguh-sungguh dalam mencarinya, maka Allah swt akan melimpahkan keridhaan-Nya kepada kalian. Kita adalah orang-orang yang bergelimang dengan dosa, semoga kita dapat meraih keberkahan dari berkah orang-orang yang taat kepada Allah swt yang ada dalam majelis ini.

Apabila kita merayakan, bergembira dengan haulnya al-Imam asy-Syeikh Abubakar bin Salim ini, sesungguhnya pada hakekatnya, kita telah bergembira dengan karunia-karunia yang diberikan Allah swt. Ketahuilah, bahwa karunia itu berupa rahmat-Nya. Dengan berkumpulnya kita disini untuk memperingati haul asy-Syeikh Abubakar bin Salim, berarti kita merayakan nikmat yang dikaruniakan oleh Allah swt kepada kita.

Ketahuilah wahai hadirin, bahwa saat ini kita sedang memperingati warisan dari Baginda Nabi Muhammad saw. Apabila seseorang memperingati dan memuliakan seorang pewaris Nabi Muhammad saw, maka Baginda Nabi Muhammad saw pun akan memuliakannya. Apabila kita berkumpul untuk memperingati orang-orang yang mulia, memperingati mereka hamba-hamba yang dekat dengan Allah swt (para auliya’ Allah swt), maka tidak diragukan lagi bahwa Allah swt pun akan mendekatkan diri kita kepada-Nya.

Betapa besar karunia Allah swt untuk ummat ini, berapa banyak orang yang masuk ke dalam majelis ini. Dalam keadaan yang tadinya ia jauh dari Allah swt, namun ketika ia keluar dari majelis ini, dalam keadaan sudah dekat dengan Allah swt. Bahkan berapa banyak orang yang masuk ke dalam majelis ini, yang tadinya ia dicatat sebagai orang yang sial, namun ia keluar dari majelis ini sebagai orang yang beruntung.

Berapa banyak orang yang hadir dalam majelis ini yang tadinya hatinya penuh dengan kekotoran, namun mereka keluar dari tempat ini dengan membawa hati yang bersih dan bercahaya. Berapa banyak orang yang hadir dalam majelis ini yang tadinya hatinya gelap gulita, namun mereka keluar dari majelis ini dengan membawa hati yang terang benderang. Berapa banyak orang yang masuk dalam majelis ini dalam keadaan Allah swt tidak suka, Allah swt berpaling dari orang tersebut, namun ia tidak keluar dari majelis ini melainkan Allah swt telah mencintai orang tersebut.

Wahai orang-orang yang mencari kebaikan, bersungguh-sungguhlah dalam pencarianmu, kembalilah kepada Allah swt dan agungkanlah Dzat-Nya swt. Dengan merendah serta tunduk kepada keagungan Allah swt, apapun yang terjadi tetap tiada ada yang lebih agung daripada Allah swt, tidak ada yang lebih besar daripada Allah swt, tidak ada yang lebih dermawan dibandingkan Allah swt.

Allah swt yang telah mengangkat derajat Nabi Muhammad saw, Allah swt yang telah mengangkat derajat para nabi dan rasul-Nya, Allah swt yang telah mengangkat derajat para malaikat dan derajat para wali-wali-Nya serta mengangkat derajat segenap kaum shalihin. Mereka adalah orang-orang yang sangat tinggi disisi Allah swt. Orang-orang yang mencari ketinggian selain dengan mendekatkan diri kepada Allah swt, maka ketahuilah bahwa mereka itu adalah orang-orang yang jatuh dan terjerumus.

Bumi telah menjadi saksi atas regenerasi umat manusia yang mana mereka mencari kemuliaan selain melalui ‘pintu’ Allah swt, selain ‘pintu’ yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw dan para shalihin, maka mereka pun hina dan terpuruk dijatuhkan oleh Allah swt.

Diantara mereka yang mencari kemuliaan dan kehebatan melalui kehebatan senjata, sebagaimana kaum ‘Ad, kaumnya Nabi Allah Hud as yang mengatakan: Siapa yang lebih kuat dan lebih hebat dari kami?

Yang lain lagi merasa kehebatan itu dengan harta yang ia miliki, sebagaimana Qarun. Diantara mereka ada yang mencari kehebatan dan kemuliaan melalui kekuasaan seperti Fir’aun dan Namrudz, serta para pembangkang-pembangkang lainnya.

Mereka itu hina, binasa dan hancur lebur, sebagaimana telah difirmankan oleh Allah swt di dalam al-Qur’an: Kami habisi mereka, Kami ambil segalanya, semua itu akibat perbuatan dosa-dosa yang mereka lakukan.

Diantara mereka ada yang ditenggelamkan, ada yang dikirimi halilintar, ada yang dihancur leburkan rumah-rumah mereka. Ketahuilah, bahwa bukan Allah swt yang mendzalimi mereka, namun pada hakekatnya merekalah yang mendzalimi diri-diri mereka sendiri.

Sekarang dimuka bumi ini berapa banyak umat manusia yang mengadakan perkumpulan-perkumpulan untuk mencari kemuliaan, keamanan dan kehebatan selain dari Allah swt. Mereka menyangka dengan pekumpulannya tersebut akan mendapatkan keamanan, derajat yang tinggi dan lain sebagainya.

Apakah mereka tidak sadar bahwa peringatan demi peringatan telah disampaikan???

Tidak sedikit dari umat manusia yang menyangka, bahwa umat-umat yang terdahulu itu mendapatkan kehebatan dari harta yang mereka miliki. Mereka mengira bahwa kemuliaan dapat diperoleh hanya dengan kekuasaan dunia semata. Jikalau hal ini terjadi, maka Allah swt akan menganggap orang tersebut hina dan Allah swt pun akan menghinakan serta membinasakan mereka di depan segenap hamba-hamba-Nya.

Ketahuilah, bahwa dengan adanya majelis-majelis semacam ini, kita berharap kepada Allah swt agar Dia memberikan kemuliaan-Nya kepada kita, dengan majelis seperti ini kita mencari dan meminta kepada Allah swt segala macam anugerah-Nya, dengan perkumpulan semacam inilah kita menuju, bermaksud dan bertumpu kepada Allah swt. Karena sebagai hamba yang beriman, kita hanya boleh bersandar dan bergantung kepada Allah swt.

Hendaknya kita selalu mendekatkan diri dengan hal-hal yang mendekatkan kita dengan Allah swt serta dengan perkara-perkara yang disukai oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Dengan keberadaan majelis semacam ini, ummat akan menjadi semakin baik. Semoga Allah swt memperbanyak majelis-majelis semacam ini dan Allah swt akan mengabadikan pengaruhnya dalam jiwa kita.

Dalam perkumpulan yang mulia ini, kita berdo’a dan berharap kepada-Nya agar Allah swt menjauhkan kita dari berbagai macam bala’ dan musibah serta kita memohon kepada-Nya agar Allah swt menjauhkan berbagai macam bencana yang membawa keburukan bagi ummat Islam. Kita berharap do’a kita didengar dan dikabulkan, sebagaimana firman-Nya di dalam al-Qur’an: Seketika kalian meminta tolong kepada-Ku, maka Aku akan menjawab dan mengabulkan do’a-do’a kalian.

Sebelum turunnya ayat ini, Rasulullah saw tidak bisa tidur semalaman, beliau saw menangis dalam munajatnya dengan mengulang-ulang ucapan: ‘Ya hayyu ya qayyum, dengarkanlah do’a hamba-Mu ini dan kabulkanlah.’

Saat itu Sayidina Abubakar ash-Shiddiq ra yang bersama Nabi Muhammad saw ikut menangis dan memeluk erat tubuh suci Rasulullah saw seraya mengatakan: Cukup... Cukup ya Rasulullah, Allah swt pasti akan mengabulkan semua do’a dan permohonanmu.

Perhatikan hal ini!!!

Rasulullah saw telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara ‘mengetuk pintu’ Allah swt dan bermunajat untuk memohon kepada-Nya. Sebaik-baiknya hal yang ada di dalam hati kita pada saat Allah swt sedang menatap hati dan batin kita adalah, saat Allah swt menemukan dalam hati kita sebuah rasa penyesalan atas kesalahan dan dosa-dosa kita.

Sesungguhnya seorang mukmin yang sejati itu sebagaimana yang digambarkan dalam hadis Nabi Muhammad saw: Orang mukmin itu, ia memandang dosa yang ia lakukan bagaikan gunung yang ada diatas kepalanya yang sewaktu-waktu bisa menimpa dirinya dan akan membinasakannya. Adapun orang munafik, menganggap dosa yang ia lakukan itu bagaikan seekor lalat yang hinggap di hidungnya yang sewaktu-waktu bisa diusir kapan saja.

Ketika al-Imam Hasan al-Bashri ra dan seorang muridnya melewati sekelompok kaum yang sedang beradu mulut tentang masalah qadha dan qadar tanpa didasari ilmu. Mereka berbincang-bincang dalam masalah yang mereka tidak mengerti. Mendengar hal itu, al-Imam Hasan al-Bashri mengatakan kepada muridnya: Jika mereka masih memikirkan dosa-dosa mereka, niscaya mereka tidak akan ada waktu untuk membicarakan hal-hal semacam ini.

Jikalau kita renungkan ucapan al-Imam Hasan al-Bashri ra, lalu bagaimana halnya dengan seseorang yang setiap hari dan malamnya ia habiskan waktunya dalam perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah swt?

Bagaimana dengan seseorang yang habis waktunya dalam menjelek-jelekkan para orang-orang shaleh, mencela para sahabat nabi dan menghina para keluarga nabi?

Bagaimana dengan keadaan seseorang yang selalu ingin menyalahkan dan mengatur orang lain?

Bagaimana dengan keadaan seseorang yang selalu menghakimi dan menyalahkan para sahabat nabi, para pendahulunya, para orang-orang besar seenak akalnya sendiri?

Bagaimana keadaan seseorang yang menganggap para ulama serta para salafunasshalihin itu orang biasa dan kecil?

Seandainya mereka memikirkan dosa-dosa mereka, niscaya mereka tidak akan tenggelam dan sibuk dalam hal-hal semacam ini.

Hendaknya kita menjadi umat, sebagaimana yang difirmankan Allah swt di dalam al-Qur’an, yaitu umat yang memiliki sifat-sifat mulia, dalam hal ini adalah orang-orang yang mengatakan: Rabbanafirlana wa li ikhwanuna aladzina sabaquuna bil iman.

‘Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami serta dosa orang-orang sebelum kami, yaitu para pendahulu-pendahulu kami.

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dalam hati kami ada suatu kedengkian terhadap hamba-hamba-Mu yang beriman, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’

Al-Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladdawilah saat bertabaruk di ma'bad (tempat ibadah) Al-Imam Asy-Syeikh Abubakar bin Salim di 'Inat, Hadhramaut
Al-Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladdawilah saat bertabaruk di ma’bad (tempat ibadah) Al-Imam Asy-Syeikh Abubakar bin Salim di ‘Inat, Hadhramaut

Syeikh Abubakar bin Salim, selalu mencari pengampunan dari Allah swt untuk dirinya dan orang-orang di zamannya. Dengan ikhlas beliau memohon kepada Allah swt untuk kebaikan umat ini, setiap malam ia menghabiskan waktunya untuk bermunajat, ‘bermesraan’ dan menangis untuk Allah swt. Apabila disampaikan kepadanya sekelompok orang menjelek-jelekan dirinya serta menghinanya, maka beliau tidak membalas cacian orang itu. Justru beliau mendo’akan serta memohonkan ampunan kepada Allah swt untuk orang itu.

Lihatlah akhlak yang begitu indah ini!!!

Syeikh Abubakar bin Salim menghabiskan waktunya untuk berdakwah dan membimbing umat menuju jalan Allah swt dan Rasul-Nya. Ia mengadakan majelis-majelis ilmu dan majelis dzikir, baik untuk orang awam maupun orang khusus. Berduyun-duyun orang datang dari tempat yang jauh, bahkan tidak sedikit mereka yang datang dari Syam, dari Mesir, dari Haramain serta dari tempat pelosok yang jauh, hanya untuk menimba ilmu kepadanya. Ia mendidik murid-muridnya, mendidik sekalian manusia untuk beradab kepada Allah swt dan Rasul-Nya.

Syeikh Abubakar bin Salim sangat senang terhadap para tetamu yang datang kepadanya, ia selalu menghormati para tamunya. Setiap orang yang datang kepadanya, selalu disambutnya dengan baik dan dijamu dengan jamuan yang istimewa. Disebutkan dalam biografi beliau, bahwasanya di dapurnya dimasak pada setiap harinya tidak kurang antara 700 (tujuh ratus) hingga 1000 (seribu) potong roti.

Pernah suatu saat seorang wanita tua datang ke rumahnya dengan membawa sedikit gandum. Wanita itu ingin menghadiahkan kepada Syeikh Abubakar bin Salim. Sesampainya di kediaman Syeikh Abubakar bin Salim, ia memberikan hadiah itu kepada pembantu Syeikh Abubakar bin Salim, dan mengatakan kepadanya agar menyampaikan hadiah tersebut kepada majikannya.

Setelah menerima pemberian sang tamu ini, lalu pembantu itu berkata: Apalah artinya hadiah yang engkau berikan ini? Tidakkah engkau mengetahui, bahwa setiap harinya kami memasak hingga seribu potong roti untuk para tamu-tamu kami?’

Tepat pembantu mengucapkan itu, Syeikh Abubakar bin Salim datang dan menemui wanita tersebut, kemudian beliau berkata kepada wanita itu: ‘Wahai ibu, engkau datang ke tempat ini karena Allah swt, berapa banyak langkah yang engkau langkahkan di dalam perjalananmu menuju kemari, semuanya di catat oleh Allah swt sebagai pahala dan engkau pun menyiapkan hadiah yang mulia ini. Berapa butir dari gandum yang engkau hadiahkan kepadaku, ketahuilah bahwa setiap butirnya dicatat sebagai pahala disisi Allah swt.

Maka diterimalah hadiah tersebut oleh Syeikh Abubakar bin Salim dengan keadaan senang. Beliau pun menjamu dan menghormati wanita tersebut, hingga wanita tua itu keluar dari rumahnya dalam keadaan gembira.

Setelah tamu itu pulang, ia pun menegur pembantunya dan berkata: Jangan sekali-kali engkau berucap kalimat seperti tadi kepada siapa pun. Ketahuilah bahwasanya kami tidak menyaksikan yang memberi, namun hal itu semata-mata hanya Allah swt. Apa pun yang sampai kepada kami melalui tangan hamba-Nya, baik itu banyak ataupun sedikit pada hakekatnya pemberinya adalah Allah swt.  Sesungguhnya Allah swt memberikan mereka pahala sesuai dengan niat mereka dan menurut kadar keikhlasan mereka.

Beliau juga mengatakan: Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka yang banyak tidak akan datang kepadanya.

Dan ini adalah warisan yang beliau bawa dari Nabi Muhammad saw. Disebutkan dalam riwayat, bahwasannya Baginda Nabi Muhammad saw sangat mengagungkan segala nikmat Allah swt yang diberikan kepada beliau saw walaupun sedikit. Suatu ketika beliau saw melihat ada beberapa butir gandum terjatuh dilantai, lalu beliau saw memungutnya seraya mengatakan kepada Sayyidah ‘Aisyah ra: Wahai ‘Aisyah, hendaknya engkau mensyukuri dan senantiasa menjaga nikmat yang dikaruniakan oleh Allah swt, sebab apabila nikmat tersebut diambil oleh Allah swt maka tidak akan kembali lagi.

Syeikh Abubakar bin Salim memiliki kesungguhan dalam memberikan manfaat kepada hamba-hamba Allah swt dan karena kesungguhan itu, maka beliaupun membawa pengaruh besar bagi lingkungannya serta bagi orang-orang di sekelilingnya, sehingga dalam sebuah kesempatan beliau mengatakan: ‘Seandainya datang kepadaku seorang badui gunung yang tidak terpelajar, namun ia memiliki kesungguhan ingin mengenal Allah swt, maka dalam sesaat aku akan membuatnya benar-benar mengenal Allah swt.’

Dalam sebuah riwayat disebutkan: ‘Apabila seseorang mukmin memandang wajah mukmin lainnya dengan pandangan yang penuh rahmat dan dengan pandangan yang penuh kasih sayang, ketahuilah bahwa hal ini adalah suatu pahala yang amat besar disisi Allah swt.’

Ini memandang wajah seorang mukmin, nah bagaimana jika kita memandang wajah para wali-Nya, orang-orang yang dicintai-Nya??

Sehingga dikatakan oleh para ulama: Barangsiapa yang tidak memandang wajah orang-orang yang beruntung (para auliya’ dan shalihin), bagaimana ia dapat menjadi orang yang beruntung. Ketahuilah, jikalau kita menatap wajah orang-orang yang beruntung dengan ikhlas karena Allah swt, maka ia pun akan menjadi beruntung.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, ketika di sebuah negeri sedang dilanda kemarau yang begitu panjang dan bertahun-tahun hujan tak kunjung tiba, kemudian mereka bersepakat akan mengumpulkan seluruh penduduk negeri itu untuk melaksanakan Shalat Sunnah Istisqa’ guna meminta kepada Allah swt agar diturunkan hujan di negeri tersebut.

Tiba-tiba datanglah seseorang musafir yang tengah lewat di daerah itu. Saat melihat para penduduk berkumpul, ia bertanya kepada salah satu dari mereka: Apakah gerangan yang sedang menimpa kalian? Aku melihat kesusahan yang mendalam di raut wajah kalian.’

Lalu sebagian dari mereka berkata: Wahai fulan, kami sedang dilanda paceklik yang berkepanjangan, sehingga kami akan melakukan Shalat Sunnah Istisqa’ untuk memohon kepada Allah swt agar Dia menurunkan hujan bagi negeri kami.

Lalu musafir itu mengangkat tangannya seraya mengatakan: ‘Ya Allah demi apa yang ada di dalam kepalaku ini, aku memohon kepada-Mu agar Engkau menurunkan hujan kepada penduduk negeri ini.’ Tak lama ia memanjatkan do’a, lalu hujan pun mengguyur negeri tersebut dengan begitu derasnya.

Para penduduk penasaran dengan do’a yang diucapkan oleh sang musafir itu, hingga salah seorang dari mereka bertanya: Wahai fulan, apakah yang ada di dalam kepalamu hingga engkau bertawasul dengan apa yang ada di dalam kepalamu?

Lalu ia menjawab: ‘Sesungguhnya yang ada di dalam kepalaku ini ada dua bola mata yang pernah melihat wajah Abu Yazid al-Bushtami dan dengan berkat itu Allah swt menurunkan hujan bagi negeri kalian ini.’

Ada sebuah dalil yang membuktikan betapa besar pengaruh dari pandangan ini, sebagaimana sabda Rasulullah saw: ‘Kelak ada seseorang yang berperang di jalan Allah swt, lalu mereka saling bertanya satu sama lainnya: ‘Adakah diantara kalian yang pernah melihat Rasulullah saw? Mereka bilang: ‘Ada, fulan, fulan dan fulan.’ Maka dengan berkat orang yang pernah memandangku itu kalian akan meraih kemenangan.

Kemudian datang generasi berikutnya ditanya: Apakah ada diantara kita orang-orang yang berjihad ini yang pernah melihat orang yang pernah melihat Rasulullah saw? Maka dikatakan: Ada fulan dan fulan pernah melihat sahabat Nabi Muhammad saw. Maka mereka pun akan bertawasul dengan orang-orang tersebut dan Allah swt pun akan memberikan kemenangan kepada mereka.

Kemudian juga datang lagi generasi berikutnya, ketika seseorang dalam sebuah peperangan dan mereka tidak berhasil meraih kemenangan, hingga akhirnya mereka saling bertanya diantara mereka: Adakah ada diantara kalian yang pernah melihat orang yang pernah melihat orang yang pernah melihat sahabat yang pernah melihat Nabi Muhammad saw?

Ketahuilah, bahwa sekarang kita berada dalam majelis seorang hamba yang dicintai-Nya, yaitu Syeikh Abubakar bin Salim. Oleh karena itu marilah kita berdo’a kepada Allah swt dengan washilah (perantara) keberkahan yang diberikan Allah swt kepada Syeikh Abubakar bin Salim, semoga Allah swt memperbaiki hubungan kita dengan-Nya dan dengan hamba-hamba-Nya.

Mudah-mudahan Allah swt memberikan keridhaan-Nya kepada kita sekalian agar Allah swt mengampuni semua kesalahan dan dosa-dosa kita.

Kita datang kepada Allah swt melalui pintu orang yang dicintai dan mencintai Allah swt, maka bersungguh-sungguhlah berdo’a kepada-Nya.

Semoga Allah swt mengampuni dosa-dosa kita yang lampau dan menjaga kita dari perbuatan dosa dalam umur kita yang selanjutnya serta mengangkat derajat orang tua kita serta mengampuni segala kesalahan dan dosa mereka.

Semoga Allah swt memberikan keberkahan dalam sisa hidup kita ini dan memberikan kita sebuah anugerah yang agung dalam akhir usia kita yaitu khusnul khatimah.

Kita berharap, semoga Allah swt mengumpulkan kita bersama para auliya,’ bersama kaum shalihin, bersama al-Imam asy-Syeikh Abubakar bin Salim dan berada dalam barisan Baginda Nabi Muhammad saw.

Mintalah kepada Allah swt Yang Maha Penyayang dan bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a dan memanggil nama Allah swt.

Memohonlah kepada Allah swt dengan sungguh-sungguh, sebab Allah swt menyukai orang yang bersungguh-sungguh di dalam memohon kepada-Nya.

Berdo’alah dengan hati kita, lisan kita dan seluruh jiwa kita.

penyeru-ajaran-suci-sang-nabi-cover-depan

***

Post a comment