No comments yet

Ciri Khas dan Akhlak Para Penduduk Tarim

Dipetik dari Buku Tarim Pusat Kota Peradaban Islam Dunia

Terbitan Pustaka Basma

Oleh : Al-Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladdawilah

Kaum Alawiyin di Tarim pada khususnya dan di Hadhramaut pada umumnya tetap dalam kebiasaan mereka menuntut ilmu agama. Mereka lebih menonjolkan akhlak serta budi pekerti luhur, mereka hidup dengan zuhud terhadap hal-hal duniawi, mereka tidak bergelimang dalam kesenangan duniawi, mereka juga menghindar dari popularitas (syuhrah).

Dalam hal ini, Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad ra berkata: “Syuhrah bukan adat kebiasaan kami, kaum Alawiyin.”

Selanjutnya Al-Imam Al-Haddad ra juga berkata: “Kedudukan kami para Sayyid Alawiyin tidak dikenal orang. Jadi tidak seperti yang ada pada beberapa para wali selain Kaum Alawiyin, yang umumnya mempunyai sifat-sifat berlainan dengan sifat-sifat tersebut. Sifat tersebut merupakan soal besar dalam bertaqarrub kepada Allah swt dan dalam memelihara keselamatan agama, serta kejernihan iman.”

Al-‘Allamah Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad berkata pula: “Dalam setiap zaman selalu ada wali-wali dari kaum Alawiyin. Ada diantara mereka yang madzhar (dikenal banyak orang) dan ada yang mastur (tidak dikenal). Yang dikenal tidak perlu banyak, cukup hanya seorang saja dari mereka, sedangkan yang lainnya biarlah tidak dikenal. Dari satu keluarga dan dari satu negeri tidak perlu ada dua atau tiga orang wali yang dikenal.”

Soal as-sitru (menutup diri) berdasarkan dua hal:

Pertama, seorang wali menutup dirinya sendiri hingga ia sendiri tidak tahu bahwa dirinya adalah wali.

Kedua, wali yang menutup dirinya dari orang lain, yakni hanya dirinya sendiri yang mengetahui bahwa dirinya wali, tetapi ia menutup (merahasiakan) hal itu kepada orang lain. Orang lain tidak mengetahui sama sekali bahwa ia adalah wali.

Sehubungan dengan tidak tampaknya para wali, Al-‘Allamah Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad ra menyebutkan dalam sebuah gubahan syairnya: “Apakah mereka semua telah mati? Apakah mereka semua telah musnah? Ataukah mereka bersembunyi, karena semakin besarnya fitnah?”

Al-Habib Ahmad bin Thaha ra berkata kepada Al-Imam Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi ra: “Aku tidak tahu bagaimana para salaf kita mendapatkan wilayah al-kasyaf (sebuah pemberian Allah swt bagi para wali-Nya untuk dapat menyingkap tabir ghaib), padahal usia mereka masih sangat muda. Adapun kita, kita telah menghabiskan sebagian besar umur kita, namun tidak pernah merasakan walau sedikitpun. Aku tidak mengetahui yang menyebabkan itu?”

Al-‘Allamah Al-Imam Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi ra menjawabnya dengan sebuah gubahan sya’ir yang sungguh indah: “Ketaatan dari orang yang makannya haram, seperti bangunan didirikan di atas gelombang. Karena ini dan juga karena berbagai sebab lain yang sangat banyak. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi seseorang daripada bergaul dengan orang-orang jahat. Majelis-majelis kita saat ini menyenangkan dan membangkitkan semangatmu.

Ruh-ruh mengembara di tempat ini sambil menikmati berbagai makanan hingga ruh-ruh itu menjadi kuat. Namun, keadaan lain kemudian mengotori hatimu dan merusak apa yang telah engkau dapatkan. Engkau membangun, tapi seribu orang lain merusaknya. Apa manfaatnya membangun jika kemudian dirusak lagi? Engkau ingin naik menuju tingkatan yang teratas, tapi orang lain menyeretmu ke bawah.”

Seorang wali quthub (seorang wali Allah swt yang memiliki kedudukan tertinggi diantara para wali lainnya), Al-Muqaddam Ats-Tsani Al-Imam Asy-Syeikh Abdurahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah ra beliau terkenal dimana-mana. Beliau meniru cara hidup para leluhurnya, baik dalam usahanya menutup diri agar tidak dikenal orang lain maupun dalam hal-hal yang lain.

Dialah yang menurunkan beberapa imam besar dizamannya, diantaranya Al-Imam Asy-Syeikh Umar Al-Muhdhar, Al-Imam Asy-Syeikh Abubakar As-Sakran ra dan anaknya Asy-Syeikh Ali bin Abibakar As-Sakran ra, Al-Imam Asy-Syeikh Abdullah bin Abubakar ra yang diberi julukan Al-Aydrus.

Al-Imam Asy-Syaikh Abdurahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah ra selalu beribadah, bertafakkur dengan menyendiri di sebuah syi’ib (lembah/wadi), pada setiap pertiga terakhir setiap malam. Setiap malam ia membaca Al-Qur’an hingga dua kali tamat dan setiap siang hari ia membacanya juga hingga dua kali tamat. Makin lama kesanggupannya tambah meningkat hingga dapat membaca Al-Qur’an empat kali tamat di siang hari dan empat kali tamat di malam hari. Bahkan disebutkan, ia hampir tak pernah tidur.

Menjawab pertanyaan mengenai itu ia berkata: “Bagaimana orang dapat tidur jika miring ke kanan melihat surga dan jika miring ke kiri melihat neraka?” Selama satu bulan beliau beruzlah (menyendiri) di syi’ib tempat pusara Nabi Allah Hud as, selama sebulan itu ia tidak makan kecuali segenggam roti yang terbuat dari terigu.

Demikianlah cara mereka bermujahadah di jalan Allah swt. Semuanya itu adalah mengenai hubungan mereka dengan Allah swt. Adapun mengenai amal perbuatan yang mereka lakukan dengan sesama manusia, para sayyid kaum Alawiyin itu tidak menghitung-hitung resiko pengorbanan jiwa maupun harta dalam menunaikan tugas berdakwah menyebarluaskan Agama Islam.

***

Post a comment