No comments yet

Mereka Adalah Wanita Sukses di Mata Allah SWT

(Petikan ceramah Habib Umar bin Hafidz)

 

Dipetik dari Buku Penyeru Ajaran Suci Sang Nabi

Terbitan Pustaka Basma

Oleh : Al-Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladdawilah

 

Hendaknya kita selalu mengikuti Rasulullah saw di dalam semua aspek kehidupan kita. Beliaulah suri tauladan kita, karena beliau saw adalah kekasih Allah swt dan pemimpin seluruh makhluk. Dalam hidupnya, beliau saw telah menunjukkan contoh nyata dan tauladan kepada kita untuk diikuti.

Begitu juga para wanita-wanita kita, selain Rasulullah saw, mereka juga memiliki para wanita yang patut untuk diteladani dan diikuti. Diantaranya adalah az-Zahra Fatimah al-Batul binti Sayyidina Rasul saw, begitu pula saudara-saudara perempuan beliau, Sayyidah Zainab, Ruqayyah dan Ummu Kaltsum.

Mereka dididik langsung dari tangan mulia Rasulullah saw, mereka belajar langsung dari Rasulullah saw, mereka dibesarkan dalam pemeliharaan Rasulullah saw, mereka berada dalam perlindungan Rasulullah saw serta berada dalam pemeliharaan orang yang pertama kali beriman, masuk Islam dan bersyahadat, yaitu ibunda mereka Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, semoga Allah swt meridhai mereka semua.

khadijah-rasulullah

Sayyidah Khadijah binti Khuwailid adalah suri tauladan bagi isteri, anak, saudari serta wanita-wanita kita. Beliau mengorbankan seluruh harta, pikiran, waktu, tenaga serta jiwanya untuk Allah swt dan Rasul-Nya serta untuk kemenangan agama ini dan segenap kaum muslimin.

Rasulullah saw bersabda: Malaikat Jibril as datang menemuiku dan berkata: Wahai Muhammad, sebentar lagi Khadijah akan datang menemuimu dengan membawa sebuah tempat berisi lauk pauk dan makanan. Jika ia telah mendatangimu, maka sampaikanlah salam kepadanya dari Allah swt dan salam dariku.

Coba perhatikan!!!

Allah swt Sang Pencipta langit dan bumi serta Malaikat Jibril as, mengucapkan salam kepada Sayyidah Khadijah?? Sungguh agung dan mulianya wanita ini.


Tak lama kemudian, datanglah Siti Khadijah sebagaimana yang telah digambarkan oleh Malaikat Jibril as. Ketika Rasulullah saw menyampaikan salam itu, Sayyidah Khadijah berkata: Allah as-Salam, dari-Nya lah segala keselamatan dan kepada Jibril kuucapkan salam.

Selain itu, ada pula Sayyidah ‘Aisyah ash-Shiddiqah binti Sayyidina Abubakar ash-Shiddiq dan juga ummahatul mu’minin (sebutan untuk para isteri-isteri Nabi Muhammad saw) lainnya serta wanita yang pertama syahid dalam Islam, yaitu Sayyidah Sumayyah, ibu dari sahabat Rasulullah saw yang bernama Ammar bin Yasir, yang dari mereka semua kita dapat mengambil suri tauladan.

Begitu juga para wanita-wanita dari kalangan shahabiyyah (para sahabat wanita) Anshar yang berjihad, yang hati-hati mereka senantiasa diliputi dengan keagungan Allah swt dan Rasul-Nya, dengan cinta yang shiddiq kepada Allah swt dan Rasul-Nya.

Disebutkan dalam sebuah riwayat yang masyhur (riwayat yang banyak didengar orang/riwayat yang terkenal): ‘Seusai pulang dari sebuah peperangan yang diikuti oleh Rasulullah saw, salah seorang sahabat yang ikut dalam perang tersebut mengatakan kepada salah satu wanita Anshar yang menunggu di gerbang pintu masuk Kota Madinah: Wahai fulanah, ayahmu telah terbunuh!’

Dengan penuh kecemasan ia menjawab: Aku tidak bertanya bagaimana kabar ayahku, namun aku bertanya apa yang terjadi pada diri Rasulullah?

Lalu datang sahabat yang lain dan berkata: Wahai fulanah, saudaramu telah terbunuh!

Wanita Anshar itu menjawab: Aku tidak menanyakan kabar saudaraku, yang aku tanyakan bagaimana keadaan Rasulullah?

Datanglah sahabat lain lagi mengatakan kepada wanita tersebut: Wahai fulanah, anakmu telah terbunuh!

Wanita Anshar tersebut menjawab: Aku tidak bertanya tentang kabar anakku, yang aku tanyakan apakah yang terjadi pada diri Rasulullah?

Sahabat tersebut menjawab: Sungguh Rasulullah dalam keadaan baik seperti yang engkau inginkan.

Dengan nafas tersengal-sengal, wanita Anshar itu berkata: Tunjukkan kepadaku dimana junjunganku Muhammad, aku ingin melihat bagaimana keadaannya!

Lalu sahabat tersebut membawa wanita Anshar ini ke tempat Rasulullah saw dan wanita itu menyaksikan Rasulullah saw dalam keadaan baik. Kemudian wanita tersebut melihat ke wajah teduh Rasulullah saw seraya berkata: Sesungguhnya setiap musibah, selain yang menimpa dirimu wahai Rasulullah adalah hal yang kecil.

Lihatlah bagaimana kecintaan seorang sahabat wanita ini kepada junjungannya, yaitu Baginda Nabi Muhammad saw.

Tegakkan pondasi agama ini dengan cinta kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Jikalau kita telah tegakkan 2 (dua) perkara yang hak ini serta kita mengetahui dengan benar akan hakekat keagungan serta kecintaan kepada Allah swt dan Rasulullah saw di dalam lubuk hati kita, maka demi Allah, tidak akan ada sesuatu apapun di muka bumi ini, di timur maupun di barat, yang membuat kita takut dan risau.

Ketahuilah, bahwa tidak ada yang lebih merisaukan para shalihin di muka bumi ini kecuali lumuran dosa yang menebal dan menumpuk, yang menimbulkan kegelapan terhadap hati dan itulah bencana yang sesungguhnya. Tatkala keagungan dan kecintaan kepada-Nya mulai menipis dari hati kita, maka itulah musibah terbesar bagi kita. Tidaklah berdiri Agama Islam kecuali dengan mengagungkan serta cinta kepada Allah swt dan Rasul-Nya.

Bercerminlah kepada Sayyidina Abubakar ash-Shiddiq, Umar al-Faruq, Usman Dzunnurain dan Ali al-Murtadha, serta 10 (sepuluh) sahabat yang mendapat jaminan surga. Lihatlah kepada Ahli Badr, Ahli Uhud, Ahli Bai’at Ridwan dan para sahabat lainnya serta orang-orang sesudah mereka.

Tidak ada hal lain yang menggerakkan serta membangkitkan hati-hati mereka, kecuali keagungan dan kecintaan yang begitu mendalam kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Atas pondasi kecintaan kepada Allah swt dan Rasul-Nya inilah tegaknya agama serta seluruh apa yang terdapat di dalamnya. Setiap jihad dan setiap kemenangan Islam pasti didasari akan kecintaan kita kepada Allah swt, Rasulullah saw dan agama ini.

Namun kecintaan itu kini telah hilang dan tersia-siakan. Bukan hanya hilang dan tersia-siakan, bahkan banyak dari akal-akal kaum muslimin di akhir zaman ini yang meremehkannya. Tidak ada kesungguhan untuk itu semua, tidak ada kemauan untuk menggapainya. Apa yang telah kita lakukan untuk mewujudkan hakekat keagungan serta kecintaan kepada Allah swt dan Rasul-Nya?

Koreksi dirimu wahai ummat Islam!

Kini kecintaanmu hanyalah tercurahkan kepada materi semata!!

Kecintaanmu hanya tertuju kepada pujian dari manusia!!

Koreksilah dirimu wahai saudaraku!!

Tinggalkanlah semua kecintaan terhadap yang lain, kecuali kepada Allah swt dan Rasulullah saw.

Rindukanlah kedekatan dengan-Nya, rindukanlah Ampunan-Nya.

Katakanlah kepadaku wahai engkau yang mengaku cinta kepada-Nya!!

Berapa kali engkau sibuk mengingat-Nya hingga membuatmu lupa akan yang selain-Nya?

Katakanlah kepadaku kapan engkau merasakan kecintaan yang terukir di dalam lubuk hatimu sehingga membuatmu jauh dari Tuhanmu?

Kapankah ini semua bisa terwujud?

Adapun orang-orang sebelum kalian, dalam hati mereka penuh kecintaan terhadap Allah swt dan Rasul-Nya. Seperti itulah para salafunasshalihin, bahkan tidur pun terbayang di mata mereka, terlintas di hati mereka. Hal ini dikarenakan kecintaan mendalam yang telah tertanam dalam hati-hati mereka. Janganlah pernah membenarkan pengakuan dirimu yang mengatakan aku cinta kepada Allah swt, aku cinta kepada Rasulullah saw, namun semua itu hanya di mulut tanpa membekas di dalam hati.

Bukankah cinta memiliki suatu tanda dan ciri?

Tidak akan menggapainya orang yang hanya tidur di kegelapan malam.

Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah saw bersabda: Allah berfirman: Dusta, seseorang yang mengaku cinta kepada-Ku, sedangkan ditengah malam ia tidur pulas dan melupakan-Ku. Bukankah sang pencinta selalu ingin berduaan dengan kekasihnya?

Bahkan tidak sedikit diantara kita yang mengakhirkan atau bahkan meninggalkan Shalat Subuh secara terus menerus tanpa adanya rasa penyesalan.

Inikah tanda cinta??

Apakah ini tanda keimanan??

Ataukah ini ciri orang yang mengagungkan Allah swt?

Atau dengan apa kita menamainya?

Keadaan ini terus-menerus melanda kita.

Aku ingatkan kepada kalian, bahwa seruan telah diserukan, walaupun engkau lalai atau pura-pura tuli, tidak ada alasan lagi bagimu.

Berubahlah wahai saudaraku!!!

Demi Allah swt yang telah mengutus Nabi Muhammad saw dengan membawa kebenaran. Tidak akan putus suara, tidak berbicara lisan yang

muhammad

haqq kecuali sebagai pengganti dan penyambung lidah Nabi Muhammad saw. Rasulullah saw seruannya menggema, dakwahnya tersebar, ucapannya terdengar, benderanya telah berkibar.

Seruan beliau saw mengingatkan orang yang lalai, mensucikan orang yang mengharap kesucian, membersihkan orang yang mengharap kebersihan, serta mengangkat derajat orang yang telah siap untuk diangkat derajatnya.

Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendengar seruan iman dari Rasul-Mu Muhammad: Berimanlah kalian kepada Tuhan kalian, maka kami pun beriman.

Dan yang mendengarkan panggilan tersebut bukan hanya para sahabat, melainkan kita juga mendengarnya.

Ya Allah, sampaikanlah kami kepada hakekat keimanan.

Inilah janji Allah swt dan ketahuilah bahwa Allah swt tidak akan pernah mengingkari janjinya.

Ya Allah, perbaikilah negeri-negeri kaum muslimin, singkirkan bencana dari kaum muslimin, jauhkan kami dari marah dan adzab-Mu.

Jadikanlah kami golongan orang-orang yang mendapatkan hidayah-Mu.

Berilah kami dari pemberian-Mu yang agung, yang luas, dengan berkat Rahmat-Mu wahai Dzat yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi.

Wahai dzat yang menyatukan tulang-tulang yang hancur, perbaikilah kehancuran diantara kami.

Wahai sebaik-baiknya penolong, tolonglah kami. Karena sesungguhnya Engkau adalah Tuhan kami dan hanya Engkaulah sebaik-baik penolong.

Hanya kepada-Mu kami mengharap pertolongan, maka tolonglah kami dan jadikanlah kami golongan orang-orang yang membela agama-Mu, sehingga Engkau yang menjadi pembela kami.

Ya Allah, jadikanlah kami golongan orang-orang yang senantiasa mengagungkan-Mu, sehingga Engkau mengagungkan kami.

Ya Allah, jadikanlah kami golongan orang-orang yang menjunjung tinggi syari’at-Mu, sehingga Engkau menjunjung kami.

Ya Allah, jadikanlah kami golongan orang-orang yang membawa hidayah-Mu yang Engkau naungi dengan pertolongan-Mu.

Ya Allah, perbaikilah kami sebagaimana Engkau telah memperbaiki hamba-hamba-Mu yang shaleh.

Wahai Tuhan kami, dengarkanlah dan kabulkanlah do’a serta permohonan kami. Wallahua’lam…

***

Post a comment