Pendiri Majelis Ta’lim, Dzikir & Sholawat Darul Hijrah, yaitu Al-Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladdawilah, beliau lahir pada 8 Juni 1982 di Kota Solo Jawa Tengah dari pasangan Al-Habib Umar bin Idrus bin Umar Mauladdawilah dengan Syarifah Sidah binti Abdullah bin Husein Assegaf yang berasal dari Kota Solo. Ayahanda dan Ibunda beliau dinikahkan langsung oleh Kholifatussalaf Al-‘Arifbillah Al-Imam Al-Quthb Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jeddah, seorang wali quthub yang merupakan pimpinan para wali di zamannya.

Setelah kelahiran putera pertama dari pernikahan Al-Habib Umar dan Syarifah Sidah, Al-Imam Al-Quthb Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jeddah juga yang memberikan nama puteranya sesuai dengan namanya sendiri yakni Abdul Qadir. Dengan harapan agar kelak mendapatkan ‘cipratan’ keberkahan dari yang memberikan nama.

al-habib-abdul-qadir-bin-umar
Adapun nasab dari Al-Habib Abdul Qadir sang pendiri dan pengasuh Majelis Darul Hijrah adalah sebagai berikut : Al-Habib Abdul Qadir bin Umar bin Idrus bin Umar bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Alwi bin Ibrahim bin Muhammad bin Alwi bin Ali bin Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Ahmad bin Ali bin Abdurrahman bin Ahmad bin Muhammad bin Alwi bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Al-Ghuyur bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Alwi bin Abdullah bin Al-Imam Ahmad Muhajir bin ‘Isa bin Muhammad bin Ali bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Imamul Masyriqil wal Maghorib Al-Imam Ali ibn Abi Thalib suami Sayyidah Fatimah Az-Zahra Al-Batul binti Sayyidina Rasulullah SAW.

Awal pendidikan diperoleh dari ayah dan ibundanya, karena dikatakan bahwasannya kedua orang tua adalah madrasah yang utama dan pertama. Kedunya menanamkan nilai-nilai ajaran para leluhur para salaf Bani Alawi semenjak kecil. Diantaranya dengan menghidupkan waktu antara Maghrib dan Isya’ dengan bacaan-bacaan ayat suci Al-Qur’an, Ratib Haddad, wirid, hizib serta dzikir yang disusun oleh para Imam Bani Alawi. Disamping itu, kedua orang tuanya mendatangkan guru ngaji untuk belajar membaca Al-Qur’an beserta tajwidnya.

Masa usia sekolah Al-Habib Abdul Qadir beliau jalani seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Beliau masuk sekolah pendidikan pra sekolah atau yang biasa disebut TK, kemudian dilanjutkan ke Sekolah Dasar Negeri di Kota Malang, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri yang juga di Kota Malang. Selepas jenjang sekolah SMP, pada tahun 1995 beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Daruttauhid Malang di bawah asuhan Al-‘Allamah Asy-Syeikh Al-Ustadz Abdullah bin Awadh Abdun sambil juga beliau sekolah

di Madrasah Aliyah. Pendidikannya di Pondok Pesantren Daruttauhid beliau jalani hingga gurunya tersebut, Al-‘Allamah Asy-Syeikh Al-Ustadz Abdullah Abdun wafat pada sekitar tahun 2001.

Kegemaran Al-Habib Adul Qadir saat masuk Pondok Pesantren adalah mengumpulkan dokumentasi seputar habaib, baik manaqib, dokumentasi foto maupun dokumentasi rekaman saat acara-acara Maulid Nabi Muhammad SAW ataupun acara haul para habaib di Pulau Jawa, seperti acara yang pertama kali dihadirinya adalah haul seorang wali yang tersohor karomah dan kedudukannya, yaitu Al-Imam Al-Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid, Tanggul, Jember Jawa Timur. Dalam majelis-majelis ilmu seperti itulah, baik di dalam pesantren maupun di acara-acara haul, hatinya merasakan ada sesuatu yang berbeda, beliau merasakan kenikmatan bathiniah yang benar-benar meresap di kalbu yang sukar dilukiskan.

Benarlah apa yang disebutkan dalam kalam Al-Imam Al-Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi yang termaktub pada Kitab Al-Manhaj As-Sawi, karya Al-‘Allamah Al-Faqih Al-Habib Zein bin Ibrahim bin Smith, “Duduk satu saat bersama orang-orang shaleh lebih bermanfaat bagi seorang hamba dari seratus atau seribu kali ‘uzlah (menyendiri, menyepi, menghindarkan diri atau mengasingkan diri dari lalu-lalangnya kehidupan duniawi demi penyucian diri).”

Terinspirasi dari sang guru sewaktu di Pondok Pesantren dulu, Al-Habib Abdul Qadir ini juga mendapatkan cerita dari gurunya, yaitu Al-‘Allamah Al-Ustadz Asy-Syeikh Abdullah Abdun begitu ta’dzim kepada gurunya yaitu Al-Imam Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri (pendiri Madrasah Al-Khairat, Palu Sulawesi Tengah). Bertahun-tahun Asy-Syeikh Abdullah Abdun berguru kepada Al-Imam Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, dan setelah Habib Idrus Al-Jufri wafat, Asy-Syeikh Abdullah Abdun menuliskan sebuah risalah yang berisi biografi sang Guru Tua (julukan bagi Al-Imam Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri), dari situlah Al-Habib Abdul Qadir merasa apa yang dilakukan gurunya tersebut benar-benar dapat menjadikan manfaat bagi dirinya dan juga untuk orang banyak yang ingin mengetahui perjalanan hidup Al-Imam Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Pondok Pesantren Daruttauhid, beliau bekerja sebagaimana yang dituntunkan oleh Baginda Nabi SAW sembari melanjutkan ‘perburuan’ ilmunya serta berkhidmah kepada para tokoh-tokoh ulama dan guru-guru besar di Malang pada saat itu, diantaranya adalah Al-Habib Ahmad bin Salim Al-Aydrus (ayahanda Al-‘Allamah Al-Ustadz Al-Habib Sholeh bin Ahmad Al-Aydrus), Al-‘Allamah Al-Habib Sholeh bin Ahmad Al-Aydrus, Al-Ustadz Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad, Al-Ustadz Al-Habib Husein bin Alwi bin ‘Agil, Al-Ustadz Al-Habib Abdullah bin Abdurrahman Mulakheilah serta masih banyak lagi guru-guru beliau lainnya.

Beliau juga aktif mengikuti berbagai kegiatan yang telah dirintis oleh para salafunasshalihin dari kalangan Ba’alawi, diantaranya dengan mengikuti rauha (pengajian dengan membahas perjalanan para salafunasshalihin), acara haul para ulama yang berjasa menanamkan keislaman di seantero bumi pertiwi ini dan lain sebagainya. Diantara waktu-waktunya, beliau juga berziarah kepada para ulama dan orang-orang sholeh, baik dari kalangan para habaib dan kyai, dari para gurunya serta dari situlah beliau memiliki ide serta inspirasi untuk berdakwah sebagaimana dakwah yang telah dirintis oleh para walisongo.

Pada tahun 2007, Al-Habib Abdul Qadir menikah dengan seorang gadis asal Jeddah, Saudi Arabia. Dan pada tahun 2008, beliau memantapkan dirinya untuk menulis perjalanan para ulama dan habaib, diantara karyanya yang sangat fenomenal adalah Buku 17 Habaib Berpengaruh di Indonesia. Setelah karya tersebut banyak lagi beberapa karya yang beliau tulis, hingga tak kurang dari 20 judul buku beliau tulis dan telah dicetak serta sudah beredar luas di Tanah Air ini, bahkan di Asia Tenggara.

Walaupun demikian ia tetap rendah hati dan tidak ‘mendudukkan dirinya’ sebagai orang yang namanya telah dikenal banyak orang. Beliau tetap low profile, beliau bersifat sederhana, banyak senyum dan mudah akrab dengan semua orang serta tak jarang nasehat-nasehat yang beliau ucapkan ‘dikemas’ dalam canda agar orang lebih mudah menerimanya. Akhlaknya benar-benar mencerminkan perangai datuknya. Meskipun beliau selalu menampik apabila ada yang mengatakan seperti itu.

Pada tahun 2010, Al-Habib Abdul Qadir ditakdirkan oleh Allah SWT untuk berangkat yang pertama kalinya berziarah ke Negeri Leluhur Walisongo, yaitu Hadhramaut. Negeri yang beliau impikan sewaktu masih belajar di pesantren. Saat itu beliau menginginkan untuk berangkat belajar ke Hadhramaut, namun karena kedua orang tuanya tidak memiliki biaya untuk memberangkatkannya, maka ia pun hanya dapat melihat kawan-kawan sebayanya yang saat itu berangkat belajar ke Negeri Para Wali itu. Saat kunjungan ziarahnya saat itu, beliau menemui para tokoh ulama yang ada di Hadhramaut. Dalam kesempatan itu beliau menghadiri halaqoh-halaqoh belajar mereka, meminta nasehat, arahan, bertabarruk serta meminta ijazah dari mereka.

Diantaranya adalah : Al-Habib Abdullah bin Muhammad bin Syihabuddin (yang mana beliau ini dijuluki matanya Kota Tarim), Al-Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri, Al-Habib Ali Masyhur bin Hafidz (kakak Habib Umar), Al-Munshib Al-Habib Ali bin Abdul Qadir Al-Habsyi (Munshib Al-Imam Al-Habib Ali Habsyi), Al-Habib Abdul Qadir bin Salim Al-Khirid, Al-Habib Umar bin Hafidz, Al-Habib Musa Kadzim bin Ja’far Assegaf, serta masih banyak lagi para tokoh ulama yang lainnya.

Setelah itu, pada tahun berikutnya beliau kembali mengunjungi Negeri Hadhramaut untuk yang kedua kalinya. Selang setahun kemudian, beliau mengunjungi Negeri Hadhramaut untuk ketiga kalinya dan pada tahun berikutnya beliau mengunjungi negeri kakek moyangnya itu untuk keempat kalinya.

‘Ternyata sabar itu buahnya manis, namun ya harus sabar.’ Itulah yang diucapkan beliau saat mengingat moment-moment tersebut sambil nampak matanya berkaca-kaca.

Beliau selalu mengatakan kepada para jama’ahnya, bahwa: ‘Allah SWT itu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita minta.’

Pada tahun itu pula, sebagaimana pengalamannya di Negeri Hadhramaut, khususnya di Kota Tarim, Al-Habib Abdul Qadir menulis satu buku khusus tentang Kota Tarim, yang berjudul Tarim Pusat Kota Peradaban Islam. Buku tersebut pure, murni dari hasil penelitian serta pengalaman beliau selama ‘duduk’ di Kota Tarim. Dan buku tersebut mendapatkan apresiasi serta ‘sambutan’ yang luar biasa dari para muhibbin dan kaum muslimin pada umumnya.

***