mdh-logo-1

Beberapa tahun beliau aktif dan terlibat secara langsung dalam membantu perjalanan dakwah Majelis Nurul Musthofa Al-Habib Hasan bin Ja’far Assegaf di Ibukota Jakarta, namun pada tahun 2016 beliau bertekad untuk lebih banyak duduk di Bumi Arema, sebutan khas untuk Kota Malang. Berawal dari acara 1 Muharram yang diadakan oleh panitia pihak RW di Kemirahan, Blimbing, selesai acara Al-Habib Abdul Qadir dijamu untuk makan di rumah seorang muhibbin (sebutan populer untuk pecinta dzuriyyah Nabi Muhammad saw) di salah satu rumah warga setempat.

Pada moment tersebut Al-Habib Abdul Qadir terkesan ada sesuatu yang hanya bisa dilukiskan oleh bathiniyyah, bahwa di rumah tersebut beliau merasakan bahwa rumah tersebut sangat nyaman untuk diadakan suatu majelis, yang bertujuan untuk mengajak warga sekitar bersama-sama membaca sholawat dan menjadikan mereka semakin mengenal dengan sosok Baginda Nabi Muhammad SAW. Padahal sebelumnya beliau sama sekali

tidak pernah mengenal atau bahkan tidak bertemu sosok shahibul bait ini. Namun subhanallah, Allah SWT benar-benar memberikan bukti nyata kekuatan takdir serta kemauanNya.

Sang tuan rumah sangat antusias menyambut berdirinya majelis ini yang diawali dari kediamannya. Beberapa pekan berlalu, lalu Al-Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladdawilah memberikan nama Darul Hijrah sebagai identitas majelis beliau. Dalam Bahasa Arab kata hijrah berarti meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah hijrah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat beliau dari Makkah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah SWT, berupa aqidah dan syari’at Islam.

Dengan merujuk kepada hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW tersebut, Al-Habib Abdul Qadir menginginkan adanya hijrah dari hal yang buruk untuk menjadi ke yang baik, dan yang baik untuk menjadi ke yang lebih baik, dan dari yang lebih baik untuk menjadi yang terbaik.

Perintah berhijrah terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an, antara lain: (QS. Al-Anfal ayat : 74) “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizqi (ni’mat) yang mulia.”

Berkat do’a serta dukungan dari para tokoh ulama, maka pada 1 Shofar 1437 H, yang bertepatan dengan 13 November 2015, Al-Habib Abdul Qadir memantapkan dirinya untuk membina serta mendirikan Majelis Ta’lim, Dzikir & Sholawat Darul Hijrah. Setiap hari setiap majelis ini semakin bertambah jama’ahnya, itu semua tidak lain karena mereka juga ingin mendapatkan keberkahan majelis dan mengharap syafa’at dari Baginda Nabi Muhammad SAW.
Sebagaimana dalam kutipan ceramah Al-Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladdawilah dalam Majelis Ta’lim, Dzikir & Sholawat Darul Hijrah 13 Djumadil Akhir 1437 / 23 Maret 2016 M bahwa “Duduknya kita dalam sebuah majelis adalah sebuah kenikmatan yang sebenar-benarnya nikmat, dikatakan oleh salafushalihin bahwasannya tiada kenikmatan, tiada keindahan dunia melainkan kita duduk di tempat-tempat yang disebut nama Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW karena di tempat tersebut adalah tempat turunnya Rahmat Allah SWT. Maka apabila kita istiqomah dalam sebuah majelis yang baik maka Allah SWT akan memberikan apa yang Allah berikan kepada hambanya kecuali Allah SWT memberikan kepada kita sesuatu yang berharga sehingga buat bekal kita di akhirat.

Nabi Muhammad SAW tatkala beliau menginginkan umatnya untuk masuk surga semuanya maka saat itu Allah SWT mengabulkan permintaan Rasulullah SAW namun dengan catatan. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang mengikutiku maka pintu surga terbuka selebar-lebarnya, maka sebaliknya barangsiapa yang jauh berjalan dariku maka ia akan celaka dan binasa.” Oleh karena itu istiqomahlah tanpa lelah hadir tanpa diperintah untuk senantiasa hadir dalam majelis-majelis ilmu, insha Allah Allah SWT menjadikan kita golongan orang-orang yang selamat dan senantiasa berjalan dijalannya Nabi Muhammad SAW, sehingga kita meninggal dalam keadaan khusnul khotimah dan bertemu dengan Rasulullah SAW serta bisa memasuki surga bersama beliau.

Yang jauh mengherankan, tatkala beliau merintis majelis ini, satu persatu yang membantu berjalannya majelis ini, mulai dari kordinator majelis, anak-anak hadhroh, anak-anak crew majelis serta orang-orang yang membantu berjalannya majelis, Allah SWT datangkan satu per satu mereka, yang mana sebelumnya tidak ada yang saling mengenal satu dengan lainnya.

mdh

‘Sungguh merupakan bukti kekuatan serta kemauan Allah SWT, Allah ta’ala datangkan mereka satu per satu, Allah SWT pilihkan yang terbaik diantara yang baik, Allah SWT satukan kita dalam satu ikatan cinta dan Allah menaruh hati-hati kita rasa persaudaraan, sehingga kita laksana satu tubuh yang berjalan dengan gemuruh rasa cinta Allah SWT dan Muhammad SAW Sang Nabi.’ Tutur Al-Habib Abdul Qadir tatkala menceritakan hari-hari awal berdirinya majelis.

Al-Habib Abdul Qadir sangat bangga dan sangat memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap anak-anak yang tergabung dalam Majelis Darul Hijrah ini. Mereka adalah para pecinta Nabi SAW yang sejati, mereka rela menyisihkan waktunya buat dakwah ini dan mereka memiliki ikatan rasa cinta dalam majelis ini. Oleh karenanya mereka memiliki slogan, ‘Istiqomah Tanpa Lelah, Hadir Tanpa Diperintah.’

Setelah beberapa waktu berjalan, majelis ini semakin banyak mendapatkan apresiasi dari masyarakat pecinta sholawat, para ulama, para tokoh habaib dan kyai di Kota Malang pada khususnya dan bahkan di luar Kota Malang.

Al-Habib Abdul Qadir berharap bahwa majelis ini senantiasa mendapatkan limpahan keberkahan Allah SWT, serta pandangan keridhoan dari Baginda Nabi Muhammad SAW, karena yang beliau tanamkan kepada para jama’ahnya adalah agar senantiasa berpegang teguh sebagaimana ajaran yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, para keluarganya yang suci, serta para sahabatnya yang mulia dan para salafunasshalihin yang semuanya terbingkai dalam bingkai Ahlussunnah Wal Jama’ah dalam Madzhab Imamuna Syafi’i.

Dalam majelis ini, yang dibaca adalah Asmaul Husna, Ratib Al-Haddad, Tawassul Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf (Bukit Duri, Jakarta), Sholawat Burdah yang dilantunkan dengan nada dan lagu yang menggugah kalbu serta diiringi dengan sya’ir-sya’ir pujian (qosidah) yang dimainkan dengan hadhrah yang khas hadhrami (sebutan untuk Negeri Hadhramaut), kemudian dilanjutkan dengan majelis ilmu yang disampaikan langsung oleh Al-Habib Abdul Qadir atau oleh para ulama yang hadir, kemudian ditutup dengan do’a dan talqin dzikir.

Selain setiap Hari Rabu ba’da Isya’, majelis ini juga memiliki rutinan di beberapa tempat di sekitar Kota Malang. Al-Habib Abdul Qadir, sang pendiri berharap agar Majelis Darul Hijrah ini senantiasa istiqomah, langgeng dan berkah serta bermanfaat di dunia dan di akhirat, serta menjadi salah satu washilah atau perantara bagi ummat Nabi Muhammad SAW untuk mencari ridho Allah SWT, Baginda Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai perantara kecintaan para auliya’ dan shalihin kepada jama’ah Majelis Darul Hijrah pada khususnya dan ummat Baginda Nabi Muhammad SAW pada umumnya. Amiin…

***